Kerusakan akibat serangan balasan Iran ke Kota Dimona, lokasi fasilitas nuklir Israel, Sabtu (21/3/2026) malam

Oleh : Dr Otong Sulaeman, Rektor STAI Sadra Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Di tengah berbagai berita tentang perang yang terus berlangsung di Timur Tengah, ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian banyak orang, tetapi sebenarnya sangat penting untuk dipikirkan.
Hal itu bukan tentang jenis rudal, strategi militer, atau peta geopolitik, melainkan tentang sesuatu yang lebih sederhana namun lebih dalam: bagaimana masing-masing pihak memperlakukan kematian, korban perang, dan kerusakan akibat perang.
Di satu pihak yang sedang berkonflik, informasi tentang korban sangat dibatasi. Warga sipil dilarang merekam. CCTV dimatikan. Media tidak bebas memberitakan kerusakan.
Jumlah korban militer dan sipil tidak diumumkan secara jelas. Bahkan dalam beberapa kasus, rumah sakit dan lokasi serangan ditutup dari liputan publik. Seolah-olah perang harus terjadi tanpa terlihat oleh masyarakatnya sendiri.
Di pihak lain, yang terjadi justru sebaliknya. Nama korban diumumkan. Foto-foto mereka dipublikasikan. Pemakaman dilakukan secara terbuka dan besar-besaran.
Media meliput keluarga korban, kisah hidup mereka, dan narasi pengorbanan mereka. Kerusakan bangunan ditunjukkan ke publik. Tidak ada upaya besar untuk menyembunyikan penderitaan akibat perang.
Perbedaan ini bukan sekadar perbedaan kebijakan media atau strategi komunikasi pemerintah.
Jika kita melihatnya lebih dalam, perbedaan ini sebenarnya mengungkap sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu dua cara yang sangat berbeda dalam memandang kehidupan, kematian, pengorbanan, dan makna hidup itu sendiri.

2 hours ago
2

















































