Pedagang Oleh-Oleh Betawi di Setu Babakan, Coba Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, Aroma dodol yang dimasak dengan kayu bakar masih tercium kental  di kawasan Setu Babakan, Jakarta Selatan. Di tengah perkembangan makanan modern dan perubahan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja, sejumlah pelaku usaha oleh oleh Betawi tetap mempertahankan produk warisan tersebut.

Salah satunya dilakukan Toko ASNR yang menjual berbagai oleh oleh Khas Betawi, temasuk dodol. Usaha yang dirintis sejak 2017 itu merupakan warisan turun menurun. Ilham Fahrudin (25 tahun), karyawan Toko ASNR, mengatakan dodol menjadi salah satu produk yang paling diminati pembeli. Panganan tradisional ini tersedia beberapa varian, dari rasa original, ketan hitam, hingga durian. “Karena dari turunan aja sih. Kita nerusin, kayak dodol dari orang orang tua sebelumnya. Kata Ilham saat diwawancara Republika pada Ahad (20/9/2026).

Menurut dia, konsumen kuliner Betawi ditokonya berasal dari barbagai kalangan. Warga jakarta masih menjadi pembeli terbanyak, sementara pembeli dari luar daerah umumnya membeli produk tersebut untuk dijadikan oleh oleh.

Namun, minat terhadap produk Khas Betawi tidak sepenuhnya sama di setiap daerah. Ilham mengatakan, masyarakat sekitar Setu Babakan masih cukup dekat dengan budaya Betawi sehingga produk tradisional lebih mudah diterima. Berbeda dengan pengunjung dari luar daerah. “Kalau warga sekitar sini udah pasti, karena adatnya masih kental juga kalau di sini,”kata dia.

Meski demikian, perkembangan usaha Toko ASNR menunjukan adanya pertumbuhan. Dari toko yang sebelumnya berjualan di depan rumah, usaha tersebut kini telah memiliki tempat produksi dan tiga cabang. Penjualan juga dilakukan malalui online dan secara langsung di toko. “Online juga ramai, ofline juga ramai, jadi imbang lah ibarat katanya,” kata Ilham.

Di tengah perkembangan tersebut, Toko ASNR masih mempertahankan proses pembuatan dodol secara tradisional. Satu kali pembuatan membutuhkan waktu sekitar delapan jam. Prosesnya pun masih dilakukan secara manual menggunakan kayu bakar. Sedikitnya dua orang dibutuhkan untuk bergantian selama proses pembuatan agar pekerjaan tidak terlalu berat.

Ilham mengatakan, dia terkadang ikut membantu proses pembuatan dodol. Tradisi tersebut menjadi bagian yang tetap dipertahankan meski cara menjual produknya mulai mengikuti perkembangan zaman.

sumber : Mg-167

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |