Merajut Asa Hari Perdamaian Internasional Dalam Dekapan Pancasila

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Perdamaian bukanlah sekadar jeda di antara dua dentuman meriam, melainkan sebuah mahakarya peradaban yang harus terus-menerus diukir dengan kesabaran, keadilan, dan kebijaksanaan.

Pada peringatan Hari Perdamaian Internasional tahun 2026, umat manusia kembali disadarkan oleh sebuah panggilan luhur yang menggema ke seluruh penjuru bumi: "Invest in Peace: For Everyone, Everywhere, Every Day."

Tema hari perdamaian pada tahun ini bukanlah sekadar slogan kosong, melainkan sebuah proklamasi moral yang menegaskan bahwa perdamaian adalah aset paling berharga yang membutuhkan investasi tanpa henti, sebuah investasi yang melampaui hitungan kapital, merasuk ke dalam relung kemanusiaan yang paling dalam, dan beresonansi di setiap napas kehidupan.

Bagi Indonesia, seruan ini adalah cerminan dari jiwa bangsa. Sebagai negara besar yang lahir dari rahim perjuangan dan kemajemukan, Indonesia memandang perdamaian sebagai keniscayaan mutlak untuk mencapai kejayaan paripurna.

Artikel ini akan menelisik secara mendalam bagaimana investasi perdamaian ini berevolusi dari panggung sejarah, mengakar pada kekhususan Indonesia yaitu Pancasila, berbenturan dengan realitas empiris geopolitik dan dinamika internal bangsa, hingga melahirkan rumusan sikap dan solusi ke depan yang menempatkan Nusantara sebagai mercusuar perdamaian dunia.

Jejak sejarah 

Sejarah Hari Perdamaian Internasional adalah sejarah tentang kerinduan umat manusia akan harmoni di tengah dunia yang kerap dikoyak oleh keangkuhan kuasa.

Ditetapkan pertama kali pada 1981 melalui Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Nomor 36/67, hari ini pada awalnya dirayakan setiap hari Selasa ketiga bulan September.

Namun, kesadaran bahwa perdamaian membutuhkan komitmen yang lebih tegas mendorong PBB pada tahun 2001, melalui Resolusi 55/282, untuk menetapkan tanggal 21 September sebagai hari gencatan senjata global dan tanpa kekerasan.

Setiap tahun, Lonceng Perdamaian di Markas Besar PBB di New York dibunyikan. Lonceng ini, yang dilebur dari koin-koin sumbangan anak-anak dari seluruh benua (kecuali Afrika) serta medali dari berbagai tokoh, memuat sebuah inskripsi agung: "Long live absolute world peace."

Sejarah ini mengajarkan satu hal fundamental: perdamaian tidak pernah turun dari langit begitu saja. Ia adalah hasil dari kesepakatan-kesepakatan yang sulit, negosiasi yang melelahkan, dan pengorbanan yang tak ternilai.

Memasuki 2026, narasi sejarah ini berevolusi. Perdamaian tidak lagi dipandang semata-mata sebagai ketiadaan perang (perlucutan senjata), tetapi menuntut "investasi" proaktif dalam bentuk pendidikan, keadilan sosial, dan pemerataan kesejahteraan bagi semua orang, di mana saja, dan setiap hari.

Tatanan Pancasila

Secara filosofis, pandangan mengenai perdamaian dapat dibedah melalui dikotomi yang diajukan Johan Galtung, bapak studi perdamaian modern. Galtung membedakan antara negative peace (ketiadaan kekerasan fisik atau perang) dan positive peace (kehadiran keadilan sosial dan ketiadaan kekerasan struktural).

Tema "Invest in Peace" pada 2026 adalah manifestasi paling murni dari positive peace. Menginvestasikan perdamaian berarti membangun institusi yang adil, memastikan distribusi sumber daya yang merata, dan menjamin supremasi hukum.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, filosofi positive peace ini menemukan habitatnya yang paling sempurna dalam Philosophische Grondslag bangsa: Pancasila.

Pancasila bukanlah sekadar teks mati atau dogma kaku, melainkan organisme yang terus bernapas, memberikan kerangka ontologis dan aksiologis bagi penciptaan harmoni global maupun lokal.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |