
Oleh : Ahmad Tholabi Kharlie, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap Hari Guru Nasional tiba, kita seakan diundang untuk kembali menelaah fondasi peradaban, yakni pendidikan. Dan, pendidikan sejatinya tidak pernah berdiri tanpa sosok guru. Di tangan guru, ilmu bukan sekadar berpindah, tetapi tumbuh dan membentuk karakter kemanusiaan.
Dalam tradisi Islam, peranan guru memiliki legitimasi teologis yang kuat. Alquran sendiri tidak turun secara langsung, tetapi melalui perantara Malaikat Jibril. Allah tentu mampu menyampaikan wahyu tanpa perantara, namun Dia memilih jalur pengajaran, jalur bimbingan.
Mekanisme inilah yang mengajarkan bahwa ilmu membutuhkan figur pendidik dan membutuhkan proses transmisi yang amanah. Itulah sebabnya menghormati guru bukan sekadar penghargaan sosial, melainkan bagian dari penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.
Tiga Prinsip
Di sisi lain, wahyu pertama (Qs. Al-‘Alaq 1-5), Iqra’ sering dipahami sebagai perintah membaca. Namun perintah tersebut mengandung gagasan yang lebih luas, yakni membuka diri terhadap seluruh bentuk pengetahuan. Iqra’ memaksa manusia untuk ingin tahu, untuk bergerak, dan untuk belajar secara aktif.
Sementara ‘allama bi al-qalam, “mengajar dengan pena”, meneguhkan tradisi literasi dan dokumentasi sebagai bagian dari peradaban. Adapun ‘allama al-insana ma lam ya‘lam mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk pembelajar yang tidak mengetahui apa-apa tanpa proses panjang yang berkelanjutan.
Ketiga prinsip ini membentuk struktur pendidikan Islam yang komprehensif. Pendidikan tidak berhenti pada lahirnya kecerdasan intelektual, tetapi harus melahirkan pribadi yang beradab, rendah hati, dan sadar akan keterbatasan dirinya. Pendidikan adalah proses pembentukan jiwa, bukan sekadar penumpukan informasi.
Pandangan ini menemukan resonansinya dalam gagasan Paulo Freire (1968), tokoh pendidikan dan pemikir progresif berkebangsaan Brasil, yang menekankan bahwa pendidikan harus memanusiakan. Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire mengingatkan bahwa pendidikan bukan proses menjejalkan informasi, tetapi dialog yang membebaskan peserta didik dari ketidaksadaran.
Ia menyebut pendekatan mekanis sebagai banking model of education, suatu pola yang mematikan kreativitas. Perspektif Freire menegaskan kembali bahwa dimensi kemanusiaan, termasuk cinta, kesadaran, dan penghormatan terhadap martabat, adalah inti dari proses belajar.
Dari prinsip-prinsip tersebut, ada refleksi penting yang patut mendapat perhatian, bahwa ilmu yang tinggi sekalipun dapat kehilangan kedalaman nilai jika tidak dibingkai dengan cinta. Pendidikan tanpa cinta mudah terjebak menjadi aktivitas mekanis, kering, dan tidak memanusiakan.
Trilogi Cinta
Dalam perspektif Islam, terdapat tiga bentuk cinta yang harus hidup sebagai fondasi kurikulum pendidikan. Pertama, cinta kepada sesama manusia. Rasulullah menegaskan bahwa keimanan seseorang belum sempurna hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Prinsip ini menempatkan hubungan guru–murid pada koridor kasih, bukan ketakutan. Mahabbah meluruhkan jarak psikologis, menciptakan kepercayaan, dan membuka ruang komunikasi yang sehat. Guru yang mengajar dengan cinta tidak terburu-buru menilai, tetapi bersabar dan memahami. Murid yang merasa dihargai akan belajar bukan karena tekanan, tetapi karena merasa dimuliakan.
Gagasan ini bersinggungan erat dengan teori ethics of care yang dikembangkan Nel Noddings (1984), filsuf pendidikan Amerika. Noddings menegaskan bahwa inti pendidikan adalah relasi peduli (caring relation) antara guru dan murid. Seorang guru mengajar bukan hanya dengan nalar, tetapi dengan hati; bukan hanya menyampaikan isi pelajaran, tetapi membangun rasa aman dan kepercayaan. Menurut Noddings, pendidikan yang berakar pada kepedulian menciptakan iklim psikologis yang memungkinkan murid berkembang secara optimal, baik secara intelektual maupun moral.
Kedua, cinta kepada alam dan lingkungan. Kerusakan ekologis yang kita alami hari ini menunjukkan bahwa teknologi dan regulasi saja tidak cukup. Diperlukan etika spiritual bahwa bumi adalah amanah dari Allah. Perintah untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi menunjukkan bahwa lingkungan bukan sekadar sumber daya, tetapi bagian dari kehidupan yang harus dijaga. Pendidikan yang menanamkan cinta lingkungan akan melahirkan generasi yang hemat energi, peduli kebersihan, dan sadar bahwa keberlanjutan adalah syarat kehidupan bersama.
Ketiga, cinta kepada tanah air. Rasulullah menunjukkan kecintaan mendalam kepada kota kelahirannya, Mekah. Cinta tanah air dalam tradisi Islam merupakan ekspresi syukur atas tempat di mana manusia hidup dan berkarya. Pendidikan yang menumbuhkan cinta tanah air berarti membentuk warga negara yang menjaga kedaulatan, menghargai keberagaman, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Tiga dimensi cinta inilah yang semestinya menjadi inti pendidikan kita. Sebab problem moral, krisis karakter, intoleransi, dan kerusakan lingkungan pada dasarnya adalah problem kurangnya cinta. Kita terlalu fokus pada kompetensi, tetapi kurang memberi ruang bagi nilai. Terlalu sibuk mengejar capaian akademik, tetapi kurang memelihara empati dan kebajikan.
Merawat Guru
Karena itu, Hari Guru Nasional harus dijadikan sebagai momentum refleksi mendalam atas arah pendidikan bangsa. Pendidikan yang mengasah kecerdasan tanpa membentuk akhlak hanya akan menghasilkan generasi cerdas namun rapuh secara moral. Sebaliknya, pendidikan yang dibangun atas dasar cinta akan melahirkan manusia yang bijaksana, peduli, dan mampu memikul tanggung jawab peradaban.
Di tengah dunia yang berubah cepat dalam pusaran disrupsi teknologi, kegelisahan sosial, dan tantangan ekologis, pendidikan berbasis cinta bukanlah utopia. Ia adalah kebutuhan. Sebab hanya ilmu yang dibingkai cinta yang mampu menggerakkan manusia menuju kemajuan yang bermartabat.
Maka marilah kita terus merawat guru, memperkuat fondasi ilmu, dan membangun kurikulum yang menghadirkan kehangatan dan kasih. Di tangan guru yang berilmu dan penuh cinta, masa depan bangsa akan menemukan arah terbaiknya.
Disarikan dari Khotbah Jumat yang disampaikan Penulis di Masjid Istiqlal, 28 November 2025

2 hours ago
2












































