Menteri Perdagangan, Budi Santoso saat diwawancarai usai menghadiri acara The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) 2026 yang digelar Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO) di Hotel Tentrem, Yogyakarta.
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali berjalan turut mendorong perbaikan harga bahan pokok, salah satunya telur ayam ras. Program tersebut dinilai meningkatkan penyerapan telur sekaligus memberikan kepastian permintaan bagi peternak.
Budi mengatakan, harga telur yang sebelumnya sempat berada di kisaran Rp 26 ribu per kilogram kini bergerak naik mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 30 ribu per kilogram. Saat ini, harga telur disebut telah berada di kisaran Rp 28 ribu per kilogram.
"Saya kasih contoh harga telur ya, harga telur kemarin kan berapa? Rp 26 (ribu). Rp 26 (ribu) itu padahal HET-nya berapa? Rp 30 ribu kan? Rp 30 ribu HET itu Harga Eceran Tertinggi," kata Budi kepada wartawan di Yogyakarta, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, pergerakan harga yang mendekati HET menunjukkan adanya keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen. Harga yang terlalu rendah, kata dia, berisiko membuat peternak merugi hingga menghentikan produksi, yang pada akhirnya dapat memicu kelangkaan dan kenaikan harga.
"Nanti produsennya rugi bisa tutup ya dan tidak produksi. Kalau tidak produksi, telur enggak ada, justru naik," ujarnya.
Budi menyebut, meningkatnya penyerapan telur untuk kebutuhan MBG menjadi salah satu faktor yang mendorong perbaikan harga. Program tersebut menciptakan permintaan yang lebih pasti sehingga produksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
"Sekarang penyerapannya lebih bagus karena salah satu faktornya ya MBG juga sudah berjalan kembali. Jadi sebenarnya MBG itu bisa menjadi penyeimbang antara permintaan dan penawaran," ucapnya.

5 hours ago
4















































