ivan adilla
Eduaksi | 2026-07-27 18:08:31
Ivan Adilla
Dosen di di Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB),
Universitas Andalas, Padang
Hampir dua bulan lamanya berita tentang nasib malang dosen memenuhi kanal berita dan media sosial. Sebagai dosen, berita-berita mengenaskan itu sungguh menyesakkan dada. Apalagi bila teringat pengalaman menjadi dosen di negeri orang. Di Korea Selatan, misalnya, profesi dosen dan guru amat dihormati. Bukan hanya oleh siswa dan mahasiswa, tapi bahkan hingga petugas keamanan dan pedagang. Inilah pengalaman saya sebagai dosen di negeri orang.
Minggu pertama mulai mengajar, seorang pegawai adminitrasi universitas menghubungi saya untuk mengkonfirmasi data pribadi. Katanya data itu perlu divalidasi sebelumnya dicetak di kartu nama yang dikeluarkan universitas. Seminggu kemudian, kartu nama –berwarna biru gelap dengan lambang universitas— selesai dicetak. Kartu nama itu menggunakan dua aksara sekaligus. Aksara Hangeoul untuk Bahasa Korea di satu sisi, dan aksara Latin untuk Bahasa Inggris di sisi lainnya. Di kartu nama itu dicantumkan nama, jabatan, alamat, email, dan nomor telepon institusi.
Mula-mula menerima kartu nama itu, saya tak begitu paham. Apa fungsinya kartu nama demikian bagi pengajar asing seperti saya? Maklumlah, ketika di Indonesia, saya jarang membuat dan membawa kartu nama. Di tempat asal saya, kartu nama merupakan kelengkapan untuk kalangan bisnis, bukan untuk dosen dan lingkungan akademik.
Akan tetapi, kartu nama yang diterbitkan universitas di Korea ternyata ampuh digunakan untuk banyak hal. Jika sedang berada di luar kampus dan perlu naik taksi untuk pulang, misalnya, saya cukup memberikan kartu nama itu untuk memberitahu alamat yang dituju. Sopir taksi segera saja membaca bagian yang bertuliskan aksara Hangeoul, mencari alamat melalui aplikasi peta dan menyetel panduan menuju alamat yang tertera. Manfaat lainnya, adalah sebagaimana pengalaman berikut ini.
Mahasiswa berjalan kaki di depan gerbang kampus Hanku University of Foreign Studies (HUFS), Yongin, Korea Selatan. Menjelang musim gugur, dedaunan yang biasanya hijau kini menguning. (Foto: Ivan Adilla)
Saya sedang mengikuti tabligh akbar yang berlangsung di kampus Jangan University, di Hwaseong. (Ini nama universitas, bukan kata larangan untuk kuliah di sini). Pengujung ramai sehingga aula univesitas penuh oleh peserta. Usai ceramah, seorang polisi yang, bertugas untuk acara itu, ikut bergabung dan mendekati saya.
“Sudah lama di Korea?” tanya polisi itu melirik dengan pandangan curiga.
“Baru dua tahun” jawab saya.
“Anda bekerja di mana?” tanyanya lagi.
“Saya bekerja di Mohyeon, Yongin,“ jawab saya sambil memberikan kartu nama berlogo universitas.
“Oh, Anda seorang professor? Maaf, Seonsaengnim ”.
Refleks saja polisi itu membungkukan badan menunjukkan rasa hormat. Saya pun membungkukkan badan untuk membalas penghormatan itu. Polisi muda itu kemudian memberikan kartu nama balasan, sambil berpesan agar menghubunginya jika perlu bantuan. Setelah itu ia pun berlalu ke arah lain.
Seorang jamaah memberitahu saya bahwa polisi Korea biasanya curiga jika ada orang asing yang berusia lanjut bekerja di negeri mereka. Usia maksimal pekerja asing adalah empat puluh tahun. Maka jika ada orang asing berambut putih bekerja di sana, akan dicurigai sebagai pekerja illegal yang telah overstay, habis masa izin tinggalnya.
“Makanya polisi itu mendekati Bapak,” ujarnya. Untunglah saya membawa jimat ampuh berbentuk kartu nama itu.
***
Pasar Namdaemun di Seoul merupakan pasar tua yang menjadi pusat berbelanja oleh-oleh untuk pelancong. Jika ada teman yang datang ke Korea dan membutuhkan oleh-oleh, maka saya akan mengantarnya ke Namdaemun. Toko langganan saya untuk membeli oleh-oleh itu terletak di baris depan arah jalan raya. Pemiliknya seorang lelaki tinggi bertubuh semampai yang murah senyum. Saya menyapanya Mr. Park, sesuai nama keluarganya. Sedangkan dia selalu memanggil saya Seonsaengnim, guru atau dosen dalam bahasa Korea.
Jika saya berbelanja, Mr. Park selalu memberi diskon. Kadang potongan yang diberikan mencapai dua puluh persen. Lumayan, kan? Lebih menyenangkan lagi, Mr. Park selalu menyediakan minuman botol dingin setiap saya berkunjung.
“Apa kabar, Bapak?” sapa Mr. Park suatu kali dalam Bahasa Indonesia. Saya kaget mendengar Mr. Park bicara dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah. Biasanya kami selalu berkomunikasi dalam bahasa Inggeris.
“Kok, belajar Bahasa Indonesia?”, tanya saya heran.
“Karena saya punya teman professor dari Indonesia.” ujarnya tersenyum lebar dan tangan terbuka. Rupanya ia belajar Bahasa Indonesia secara privat pada seorang mahasiswa Korea yang bisa berbahasa Indonesia. Ditambah dari buku-buku untuk belajar bahasa asing yang diterbitkan pemerintah.
Pertengahan 2018, jumlah wisatawan dari Indonesia dan Malaysia meningkat cukup tinggi. Di Namdaemun atau Myeongdong, dua pasar yang disukai turis asing, mudah terlihat wanita berjilbab yang bicara dalam Bahasa Indonesia, Jawa, atau Melayu. Pelancong Melayu itu suka mengenakan topi lebar sambil menenteng tas-tas belanja besar yang dipenuhi aneka barang. Mr. Park dan pedagang lain di Namdaemun tampaknya sedang menyiapkan diri menyambut gelombang pasang wisatawan dari Asia Tenggara. Sayang sekali, tak lama kemudian pandemi melanda dunia, yang membuat kunjungan turis menjadi sepi.
Minggu kedua bulan Mei. Kelas “Bahasa dan Media” yang saya ampu sedang berlangsung, ketika tiba-tiba terdengar ketokan di pintu. Ini hal yang tak biasa, jadi saya bergegas membukanya. Beberapa mahasiswa senior minta izin masuk kelas untuk menyampaikan pengumuman penting. Begitu pengumuman dalam bahasa Korea itu disampaikan, mahasiswa bertepuk tangan.
“Bapak. Hari ini adalah hari guru di Korea. Kami akan mempersembahkan hadiah kecil untuk Bapak di hari istimewa ini”, ujar Won-Jae, mewakili teman temannya.
Saya diminta berdiri di depan kelas. Seorang mahasiswa senior kemudian menyematkan rangkaian bunga kecil di jas yang saya pakai. Setelah itu seluruh mahasiswa berdiri dan membungkukkan badan memberi hormat. Dengan canggung saya membalas penghormatan itu. Mahasiswa kembali duduk, sedangkan mahasiswa senior pamit ke luar kelas. Peringatan hari guru di kelas kami pun selesai.
Sampai di apartemen, karangan bunga kecil yang disematkan di jas itu, saya buka. Hadiah itu kemudian saya bingkai dengan kertas flano berwarna hijau muda dan ditempelkan di dinding kamar. Pada peringatan hari guru tahun berikutnya, selain mendapat karangan bunga kecil, saya juga mendapat ucapan selamat dari mahasiswa melalui surat yang ditulis tangan. Surat itu ditulis di atas kertas merah jambu dan dimasukkan ke dalam amplop bermotif bunga yang diberi pita kecil di pinggirnya. Mengingatkan saya pada surat cinta masa remaja.
Bunga sakura bermekaran di sekeliling gedung perpustakaan kampus Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Yongin , Korea Selatan. (Foto: Ivan Adilla)
Begitu ajaibnya jabatan dosen dan kartu nama berlogo universitas di rantau orang, ada kerinduan dalam hati untuk memperoleh kartu nama di negeri sendiri. Tapi tampaknya kerinduan itu hanya sebatas angan. Meski telah bertugas lebih dari tiga puluh tahun di Indonesia, rasa-rasanya saya belum pernah dibuatkan kartu nama oleh universitas tempat saya mengajar.
Dari mana orang tahu kalau saya seorang dosen? Tentulah karena ia pernah bertemu saya di kampus. Atau dari menduga-duga, setelah melihat tampang saya yang makin hari semakin lelah dihimpit beban adminitrasi. Pulang ke rumah dengan langkah gontai mengingat gaji yang cekak untuk menghidupi keluarga.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
2












































