Islamofobia di AS Meningkat, Insiden Penyerangan Masjid Melonjak 183 Persen

5 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON -- Gelombang islamofobia di Amerika Serikat kembali menjadi sorotan. Dewan Hubungan Amerika-Islam (Council on American-Islamic Relations/CAIR) melaporkan lonjakan tajam insiden yang menyasar masjid dan tempat ibadah umat Islam sepanjang tiga bulan terakhir.

CAIR mencatat terdapat 17 insiden yang menargetkan tempat ibadah Islam pada Mei hingga Juli tahun ini. Angka tersebut meningkat 183 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencatat enam insiden.

Jumlah itu juga telah mencapai sekitar 51 persen dari total 33 insiden yang secara khusus menyasar lembaga-lembaga Islam sepanjang 2025, termasuk masjid, pusat komunitas Islam, dan tempat ibadah Muslim lainnya.

Direktur Riset dan Advokasi CAIR, Corey Saylor mengatakan, islamofobia masih menjadi bentuk kebencian yang terus mengakar di Amerika Serikat.

"Islamofobia tetap menjadi bentuk kebencian yang dapat diterima di AS. Tempat-tempat ibadah Amerika terlalu sering dilihat sebagai target fitnah politik murahan dan kekerasan," ujar Saylor dilansir Anadoluagency pada Rabu (29/7/2026),

Ia menegaskan, para pemimpin komunitas memiliki tanggung jawab untuk memastikan rumah-rumah ibadah tetap menjadi tempat yang aman bagi umat untuk beribadah, merenung, dan berkumpul. Menurut dia, kewaspadaan menjadi bagian penting dalam mewujudkan keamanan tersebut.

CAIR menjelaskan, insiden yang mereka dokumentasikan meliputi serangan teroris terhadap masjid, ancaman kekerasan, pembakaran, tindakan intimidasi, hingga penolakan terhadap pendirian atau keberadaan tempat ibadah Islam karena alasan agama.

Organisasi tersebut juga menyebut para penelitinya secara rutin memantau periode tiga bulan setelah suatu peristiwa besar untuk mengidentifikasi potensi lonjakan aksi kebencian.

Dalam konteks ini, CAIR menyoroti serangan pada 18 Mei di Pusat Islam San Diego. Dalam insiden tersebut, Amin Abdullah, Mansour Kaziha, dan Nadir Awad kehilangan nyawa saat berupaya melindungi anak-anak dari serangan seorang ekstremis supremasi kulit putih yang menargetkan fasilitas tersebut.

Selain itu, pada Mei lalu, kantor CAIR di New Jersey (CAIR-NJ) menerima laporan dari empat masjid yang mengalami pelecehan terarah berupa panggilan telepon bernada ancaman, surat kebencian, hingga intimidasi fisik. Aparat penegak hukum setempat juga menginformasikan bahwa enam masjid lainnya mengalami tindakan serupa.

CAIR menegaskan seluruh data yang dimasukkan dalam laporannya berasal dari informasi yang tersedia untuk publik, baik melalui pemberitaan media maupun unggahan di media sosial.

Merespons meningkatnya ancaman terhadap komunitas Muslim, CAIR mengimbau para pengurus masjid dan pemimpin komunitas untuk meningkatkan langkah-langkah pengamanan. 

Organisasi itu juga mengajak mereka mendaftarkan diri guna memperoleh "Panduan Praktik Terbaik untuk Keamanan Masjid dan Komunitas" yang diperbarui dan dijadwalkan dirilis bersama North American Islamic Trust pada akhir Agustus.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |