REPUBLIKA.CO.ID, SHENZHEN – Indonesia mengajak Jepang memperkuat kerja sama pengelolaan ekosistem mangrove melalui pengembangan World Mangrove Center (WMC). Inisiatif tersebut diharapkan menjadi wadah kolaborasi global dalam riset, peningkatan kapasitas, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan inovasi untuk mendukung mitigasi serta adaptasi perubahan iklim.
Ajakan tersebut disampaikan dalam pertemuan bilateral di sela Pertemuan Menteri Kehutanan negara anggota Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, China.
Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan Laksmi Wijayanti mengatakan, Indonesia ingin memastikan kerja sama kehutanan dengan Jepang menghasilkan manfaat yang konkret bagi kedua negara.
“Indonesia memandang penting agar kerja sama kedua negara difokuskan pada sejumlah hasil nyata, yaitu implementasi efektif dua proyek JICA, pengembangan kolaborasi World Mangrove Center, dukungan teknis untuk karbon hutan, pengembangan konsep Sister Park, serta implementasi kerja sama konservasi satwa liar yang berjalan dengan baik. Kami berharap koordinasi antara para pejabat dan instansi pelaksana kedua negara terus berlanjut sehingga berbagai inisiatif tersebut dapat diwujudkan menjadi kegiatan yang konkret dan saling menguntungkan,” kata Laksmi, Senin (28/7/2026).
Menurut Kementerian Kehutanan, World Mangrove Center dikembangkan sebagai pusat kolaborasi internasional dalam pengelolaan ekosistem mangrove melalui riset, pengembangan kapasitas, pertukaran pengetahuan, dan inovasi untuk mendukung upaya mitigasi serta adaptasi perubahan iklim.
Selain pengembangan WMC, Indonesia menawarkan penguatan kerja sama pengelolaan taman nasional melalui inisiatif Sister Park, penyelenggaraan Joint National Park Workshop, konservasi keanekaragaman hayati, serta persiapan kerja sama konservasi satwa terkait rencana peminjaman komodo ke Jepang dengan tetap mengacu pada ketentuan nasional dan standar internasional kesejahteraan satwa.
Kedua negara juga membahas penguatan kerja sama pemberantasan pembalakan liar dan peningkatan perdagangan produk hasil hutan yang legal dan berkelanjutan, termasuk dialog mengenai interoperabilitas Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) Indonesia dengan ketentuan legalitas kayu Jepang melalui Clean Wood Act.
Wakil Direktur Jenderal Badan Kehutanan Jepang Eiji Tanimura menyambut baik berbagai usulan tersebut dan berharap kerja sama kehutanan kedua negara terus diperluas.
“Kami berharap Indonesia dan Jepang dapat terus memperluas kerja sama di berbagai bidang kehutanan serta menjadikannya sebagai bagian yang semakin penting dalam kebijakan kedua negara. Tidak hanya melanjutkan kerja sama yang telah berjalan, kami juga berharap kolaborasi ini dapat berkembang ke lingkup yang lebih luas dan semakin mempererat hubungan antara Indonesia dan Jepang di masa depan,” kata Eiji.

1 hour ago
2











































