Hampir Tiga Perempat Pemilik Usaha Keluarga di Asia Belum Siapkan Penerus Bisnis

6 hours ago 3
 Sun LifeSiapkan pewaris bisnis keluarga (ilustrasi). FOTO: Sun Life

SEKITARSURABAYA.COM, SURABAYA -- Survei terbaru dari Sun Life Asia menyoroti adanya kesenjangan kesiapan yang masif dalam hal pengaturan warisan di kalangan pemilik usaha keluarga di Asia, yang merupakan fondasi utama ekonomi kawasan.


Berdasarkan survei tersebut, mayoritas usaha keluarga, atau hampir tiga perempat (73%) ternyata masih belum memiliki rencana penerus usaha yang lengkap dan terstruktur.


"Hanya 27% responden yang sudah memiliki rencana penerus usaha yang lengkap. Hampir tiga perempat usaha keluarga masih belum siap," kata Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, Maika Randini dalam siaran tertulisnya, Sabtu (29/11/2025).


Maika mengatakan, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keberlanjutan dan peralihan kekayaan lintas generasi di tengah skala besar perusahaan keluarga yang mencapai 85% dari total perusahaan di Asia Pasifik.


Survei menunjukkan adanya perbedaan mencolok antara niat dan tindakan nyata. Meskipun 94% keluarga pemilik usaha berencana untuk menyiapkan pengaturan warisan yang komprehensif, hanya 27% responden yang secara aktual telah merampungkan rencana penerus usaha mereka.


Sisanya terbagi dalam beberapa kategori ketidakpastian. Dimana 25% baru memiliki sebagian rencana, 24% sedang dalam proses penyusunan, dan 19% sama sekali belum memiliki rencana, meski berniat membuatnya.


Maika mengungkapkan, khusus Indonesia tercatat sebagai negara dengan persentase pemilik usaha yang memiliki rencana penerus usaha terstruktur tertinggi, yakni mencapai 39%.


"Angka ini jauh melampaui negara lain seperti Singapura yang tercatat 28%, Hong Kong 20%, dan Vietnam yang berada di posisi paling bawah dengan hanya 14%," ujarnya.


Maika mengungkapkan, selain masalah formalitas rencana, komunikasi warisan juga menjadi titik lemah. Di antara penerus keluarga yang sudah aktif dalam bisnis, hanya 44% yang menyatakan generasi sebelumnya telah mengkomunikasikan rencana warisan secara menyeluruh.


"Angka ini bahkan anjlok menjadi 27% pada keluarga yang penerusnya tidak terlibat dalam operasional bisnis," ucapnya.


Maika pun menekankan urgensi masalah ini. Ia mengatakan, peralihan kekayaan lintas generasi dalam skala besar sudah berlangsung di Asia, sehingga penting bagi para pemilik usaha untuk mempersiapkan masa depan dan menjaga warisan mereka.


Meski banyak yang belum memiliki struktur rencana penerus usaha yang formal, hampir 7 dari 10 keluarga pemilik usaha (69%) menempatkan perlindungan keuangan keluarga sebagai faktor terpenting dalam perencanaan warisan.


Prioritas berikutnya adalah memiliki rencana warisan yang jelas dan tersampaikan dengan baik untuk menghindari kebingungan atau perselisihan (54%), serta membangun kekayaan yang cukup untuk diwariskan ke generasi berikutnya (51%).


Lebih dari dua pertiga ingin kekayaan yang ditinggalkan dimanfaatkan untuk pertumbuhan jangka panjang, dengan 68% menginginkan warisan diinvestasikan melalui aset keuangan, asuransi jiwa, atau bisnis keluarga.


“Banyak keluarga belum siap menghadapi masa depan, meski memahami pentingnya rencana penerus usaha yang terstruktur. Ini menjadi peluang besar bagi pemilik usaha untuk memperkuat fondasi masa depan," kata dia.


Maika melanjutkan, perbedaan nilai, minat, dan prioritas antargenerasi menyebabkan semakin banyak penerus keluarga enggan melanjutkan usaha, baik karena keinginan untuk mandiri, takut akan tanggung jawab, atau memiliki minat dan visi yang berbeda.


Di antara pemilik usaha keluarga yang sudah terlibat aktif, hanya 40% yang percaya generasi berikutnya bersedia penuh melanjutkan bisnis.


Di sisi lain, dari penerus keluarga yang tidak terlibat operasional, hanya 31% yang menyatakan bersedia sepenuhnya mengambil alih.


Separuh penerus keluarga yang enggan mengambil alih bisnis menyebut keinginan untuk tetap mandiri sebagai alasan utama. "Alasan lain termasuk takut tanggung jawab (42%), kurang minat (28%), dan perbedaan nilai atau visi (27%)" ujarnya.


Maika mengungkapkan, kurang dari separuh responden pemilik usaha keluarga pernah mencari nasihat perencanaan keuangan. Dari mereka yang sudah atau berencana mencari nasihat, 61% menempatkan keahlian profesional sebagai tiga faktor terpenting dalam memilih konsultan.


Faktor berikutnya adalah kemampuan merencanakan kebutuhan keluarga lintas generasi (52%), serta pendekatan personal dan disesuaikan (49%).


Terkait model layanan, 36% memilih ahli individual dengan spesialisasi tertentu. Hampir seperempat (23%) lebih menyukai layanan family office komprehensif yang melibatkan beberapa ahli, sementara 32% memilih kombinasi keduanya.


“Temuan kami menunjukkan bahwa pemilik usaha keluarga membutuhkan wawasan profesional yang mendalam dan pendekatan jangka panjang yang disesuaikan. Baik layanan ahli individual maupun family office memiliki tempatnya masing-masing," ucap Maika.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |