REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ajang kecantikan berbasis pelestarian warisan budaya, Miss Tionghoa Indonesia 2026, memasuki masa krusial menjelang Grand Final. Salah satu finalis yang mencuri perhatian adalah Regina Eleonore Phen atau Regina Phen, perwakilan DKI Jakarta di kategori remaja.
Pada usianya yang baru menginjak 14 tahun, Regina membawa perpaduan antara prestasi akademik, kemampuan seni, penguasaan bahasa Mandarin, serta kepedulian terhadap pelestarian budaya Tionghoa dan akulturasi dengan budaya Nusantara.
Di bidang pendidikan dan bahasa, Regina berhasil meraih Gold Medal dalam Indonesian Youth Mandarin Olympiade 2026 Summer Edition yang menunjukkan kemampuannya dalam bahasa Mandarin.
Tidak hanya di bidang akademik, Regina juga aktif di dunia seni pertunjukan. Ia menekuni ballet dan musical theatre, serta pernah meraih Bronze Award dalam lomba internal Marlupi Dance Alliance (MDA) 2025 dan tampil dalam Global Dance Challenge (GDC) 2026.
Kecintaannya terhadap seni juga diwujudkan melalui keterlibatannya dalam kompetisi piano internasional, Singapore International Youth Piano Competition (SIYPC) 2024, serta aktivitasnya sebagai bagian dari Little Mermaid Musical Theater dalam industri teater pertunjukan kreatif.
Menjelang Miss Tionghoa Indonesia 2026, Regina menjalani berbagai persiapan, mulai dari public speaking, pendalaman sejarah akulturasi budaya, visualisasi Batik Betawi dan tradisi Qipao, latihan koreografi, hingga pengembangan bakat.
Namun, bagi Regina, keikutsertaannya dalam ajang tersebut bukan semata-mata untuk mengejar gelar atau mahkota. Ia ingin memanfaatkan panggung tersebut untuk menyampaikan pesan kepada generasi muda mengenai pentingnya mengenal dan melestarikan akar budaya.
“Saya mengikuti ajang ini karena saya ingin menjadi inspirasi bagi generasi muda Tionghoa untuk terus mengenal, menghargai, dan melestarikan budaya mereka. Menurut saya, budaya akan terus hidup apabila generasi muda mau ikut menjaganya,” ujar Regina.
Semangat tersebut ia tuangkan melalui advokasi yang diberi nama 'Bridges of Tradition'. Melalui advokasi ini, Regina ingin menjadi penghubung antara tradisi dan generasi muda.
Menurut Regina, pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan melalui cara-cara yang formal. Tradisi juga dapat diperkenalkan melalui medium yang dekat dengan kehidupan generasi muda, seperti media sosial, seni, musik, tari, dan berbagai kegiatan kebudayaan.
'Bridges of Tradition' juga menjadi cara Regina mengajak generasi muda Tionghoa agar tidak merasa jauh dari akar budaya mereka. Ia berpandangan bahwa mengenal budaya tidak berarti harus meninggalkan perkembangan zaman. Sebaliknya, nilai-nilai warisan keluarga dan leluhur dapat terus dihidupkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang terus berkembang.
Regina juga melihat identitas Tionghoa dan identitas Indonesia sebagai dua hal yang dapat berjalan berdampingan. Menurutnya, keberagaman budaya merupakan bagian dari kekayaan Indonesia yang perlu dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Bagi saya, menjadi Teen Miss Tionghoa Indonesia 2026 bukan tentang memilih salah satu identitas. Keduanya adalah bagian dari diri saya, dan saya ingin generasi muda lainnya juga dapat merasa bangga dengan akar budaya mereka," katanya.
Selain aktif dalam kegiatan budaya, Regina baru-baru ini juga mengedukasi publik mengenai filosofi Festival Qixi sebagai bagian dari upayanya memperkenalkan tradisi Tionghoa kepada generasi muda.
Kini, perhatian Regina sepenuhnya tertuju pada Grand Final Teen Miss Tionghoa Indonesia 2026. Dukungan terhadap perjalanannya juga datang dari keluarga, kerabat, serta pemerhati pageant melalui platform pemungutan suara resmi VoteID Click Miss Tionghoa Indonesia 2026.
Bagi Regina, perjalanan di ajang tersebut bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga ruang untuk belajar, menyuarakan gagasan, dan menunjukkan bahwa generasi muda dapat mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya.
Ia ingin membuktikan bahwa generasi muda bukan hanya penerus tradisi, tetapi juga dapat menjadi jembatan yang membawa tradisi tersebut tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya.

3 hours ago
3














































