Difitnah, Cara Hamka dan Pramoedya Saling Memaafkan

6 hours ago 3

Home > Kisah Saturday, 29 Nov 2025, 06:14 WIB

Pram ingin calon menantunya masuk Islam dan belajar Agama Islam kepada Buya Hamka.

 Sumatralink.id/AI)Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer. (Foto: Sumatralink.id/AI)

SUMATRALINK.ID -- Dua koran ibukota berhaluan komunis gencar menurunkan berita utama berbau fitnah. Novel Buya Hamka Tenggelamnya Kapal Van der Wijch dituduh hasil plagiat karangan pujangga Prancis Alvonso Care.

Hamka baru saja pulih, setelah dirawat tiga bulan di rumah sakit dan di rumah. Kakinya terkilir di tangga sepulang Shalat Subuh di Masjid Agung, tahun 1960-an. Kakinya harus di gips, tulang tumitnya retak. Kalau berjalan harus bertongkat.

Dua koran itu Harian Rakyat dan Harian Bintang Timur masif memberitakan tulisan Ki Panji Kusmin. Tulisannya mengulas bagaimana Hamka mencuri karangan asli pujangga Prancis itu. Tulisan itu dimuat juga di Lembar Lentera Koran Bintang Timur asuhan Pramoedya Ananta Toer, panggilannya Pram.

Berita fitnah yang menyerang tokoh Islam dan satrawan Buya Hamka ini berlangsung berbulan-bulan. Dua koran ini, termasuk PKI dan Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra juga menyerang sisi pribadi Hamka dalam tulisan-tulisannya.

Namun, fitnah dan tuduhan tak berdasar yang dilancarkan Ki Panji Kusmin dan Pramoedya Ananta Toer, tak membuat Hamka gusar. Ia masih tenang-tenang saja, meski buku-buku karya Hamka dibakar Lekra.

Baca juga: Ada Pak Suli di Bungalo Bung Hatta

Meski Hamka biasa-biasa saja, tapi anak-anaknya tentu resah. Berita dua koran itu sedikit banyak mengganggu aktivitas sekolah mereka. Irfan, anak kelima Hamka, sering mendapat interogasi di sekolah.

Guru Sastra dan guru Civic Irfan di SMA selalu menyindir kesehatan ayahnya. Kedua guru tersebut menanyakan Hamka bernada mengejek.

"Kupingku terasa panas bila kedua guruku itu bertanya kepadaku, begitu juga dengan saudara-saudara yang lain. Apalagi membaca koran yang sengaja dikirim ke rumah secara gratis," kata Irfan dalam bukunya Ayah, Kisah Buya Hamka, 2016.

Perseteruan Buya Hamka dan Pramoedya berlangsung sejak tahun 1963. Terjadi Gerakan 30 September 1965 yang dilakukan PKI. Usaha kudeta PKI gagal, namun terdapat korban enam jenderal dan seorang perwira.

Dua tahun dari fitnah terhadap Hamka, dua guru usil kepada Irfan di sekolah diberhentikan sebagai guru dan PNS. Sedangkan Pramoedya ditahan dan diasingkan di Pulau Buru.

Seiring waktu berjalan, Pram bebas. Buya Hamka sebenarnya tidak menaruh pusing dengan tudingan sastrawan Pramoedya atas hasil karyanya yang difitnah plagiat dan diserang habis-habisan pribadinya di dua koran berhaluan komunis tersebut.

"Ayah nyaris tidak pernah terusik. Ayah sangat tenang sekali menyikapi semuanya," kata Irfan.

Image

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |