Home > Literasi Saturday, 29 Nov 2025, 13:37 WIB
Buku ini menjadi istimewa bukan hanya karena isinya yang komprehensif, tetapi juga karena tempat kelahirannyaPalangka Raya, kota yang berdiri tenang di tengah pulau berjuluk Borneo.
Buku “Pengantar Ilmu Politik Teori dan Studi Kasus Kontemporer" karya Ahmad Robi Ul’Zikri dosen Fisip, Universitas Palangka Raya. (FOTO: Maspril Aries)KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK – Di antara riuhnya kehidupan kampus di berbagai penjuru Indonesia, ada satu mata kuliah yang hampir selalu menjadi gerbang pertama bagi mahasiswa Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan untuk memasuki dunia keilmuan yang lebih luas, yaitu Pengantar Ilmu Politik. Mata kuliah ini, bagi sebagian mahasiswa, mungkin terdengar sederhana. Hanya “pengantar” atau sebuah permulaan.
Namun bagi generasi terdahulu, terutama mahasiswa di luar Pulau Jawa pada dekade 1980-an, mata kuliah ini bukan sekadar permulaan. Ia adalah pintu yang terbuka sangat sempit, kadang hanya sedikit cahaya ilmu yang dapat masuk, sebab keterbatasan referensi menjadi tantangan besar yang mewarnai zaman itu.
Jika kita menoleh ke masa lalu, ke era 80-an yang kini terasa jauh, mahasiswa-mahasiswa Fisip (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) yang belajar di luar Jakarta sering mengisahkan bahwa perjuangan mereka tidak hanya sebatas memahami teori-teori politik. Mereka harus berjuang bahkan untuk mendapatkan bukunya. Di banyak kota, toko buku besar belum hadir. Beberapa toko buku kecil mungkin ada, tetapi stoknya terbatas, tidak terkurasi, dan sering kali tidak menyediakan buku-buku politik terbaru.
Bayangkan seorang mahasiswa di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi atau Nusa Tenggara yang baru mulai mengenal istilah “negara”, “kekuasaan”, “legitimasi”, dan “partisipasi politik”. Di kelas, dosen menyebutkan satu atau dua referensi penting, tetapi saat mahasiswa mencari ke toko buku di kotanya, buku itu tidak tersedia. Mereka mengandalkan fotokopi dari teman yang membawa buku dari Jawa, atau bahkan menunggu kiriman dari kerabat di kota besar.
Pada masa itu, internet belum hadir sebagai penyelamat. Tidak ada mesin pencari yang bisa menampilkan ribuan artikel dalam hitungan detik. Tidak ada e-book, journal repository, atau platform daring yang bisa diakses dari kamar kos. Buku fisik adalah segalanya. Tanpa buku, ilmu terasa seperti berdiri di kejauhan, hanya bisa ditatap tanpa bisa direngkuh.
Penggiat Literasi-Tutor-Penulis & Penerbit Buku -- PALEMBANG - INDONESIA

6 hours ago
3













































