Bitcoin Terkoreksi, Perbedaan Perilaku Investor Warnai Volatilitas Pasar

3 hours ago 1

Aset kripto (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pasar aset kripto global berada dalam fase volatilitas tinggi setelah Bitcoin terkoreksi hingga kisaran 74.000 dolar AS sebelum pulih di sekitar level 77.000 dolar AS. Tekanan ini muncul bersamaan dengan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penguatan dolar Amerika Serikat menyusul nominasi kepemimpinan baru Federal Reserve.

Koreksi tersebut memangkas kapitalisasi pasar kripto global sekitar 800 miliar dolar AS sejak titik tertingginya pada Oktober lalu. Kondisi ini menegaskan meningkatnya sensitivitas industri kripto terhadap dinamika makroekonomi dan geopolitik global.

Vice President Indodax Antony Kusuma menjelaskan, Bitcoin kerap menjadi salah satu aset pertama yang bereaksi terhadap gejolak global karena diperdagangkan selama 24 jam tanpa jeda. “Dalam kondisi seperti ini, kita melihat sentimen risk-off terjadi secara bersamaan. Bukan hanya aset digital, instrumen hard money tradisional seperti emas dan perak juga ikut mengalami tekanan jual yang signifikan,” ujar dia dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).

Data on-chain dari Glassnode menunjukkan perbedaan respons antar kelompok pelaku pasar. Di tengah tekanan harga, investor ritel cenderung melepas aset seiring meningkatnya kekhawatiran, sementara pemegang besar atau ‘mega whales’ dengan kepemilikan lebih dari 1.000 Bitcoin melakukan penyesuaian portofolio secara bertahap.

Menurut Antony, perbedaan perilaku tersebut mencerminkan variasi pendekatan manajemen risiko antar kelas investor. Hal ini sekaligus menunjukkan struktur pelaku industri kripto yang semakin beragam.

Antony menambahkan, meskipun sentimen pasar berada pada fase ketidakpastian tinggi, fondasi ekosistem kripto dinilai lebih kuat dibandingkan periode koreksi 2022. Keterlibatan institusi melalui produk ETF serta integrasi dengan infrastruktur perbankan memberi lapisan stabilitas tambahan bagi industri.

Sejalan dengan kondisi tersebut, investor di Indonesia diingatkan untuk tetap mengedepankan pendekatan rasional dan tidak mengambil keputusan berbasis emosi jangka pendek. Evaluasi manajemen risiko serta pemahaman terhadap profil risiko pribadi menjadi faktor penting dalam menghadapi fluktuasi pasar.

Disiplin pada strategi jangka panjang, pemantauan pasar secara proporsional, serta riset mandiri disebut sebagai langkah yang relevan di tengah volatilitas. Penguatan literasi dinilai krusial agar masyarakat mampu membaca arah perkembangan ekonomi digital global secara lebih komprehensif.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |