REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di antara deru kendaraan yang mengalir menuju kampung halaman, perjalanan mudik selalu menyimpan dua wajah: harapan untuk pulang dan kewaspadaan terhadap risiko di jalan. Pada musim Lebaran tahun ini, pemerintah berupaya memastikan keduanya berjalan beriringan, aman sekaligus bermakna.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menegaskan bahwa kesiapan transportasi tidak semata soal kelancaran arus, melainkan juga tentang kemampuan mengantisipasi risiko, terutama di titik-titik rawan bencana.
“Kita berharap transportasi multimoda pada masa Lebaran ini dapat dipersiapkan sebaik mungkin. Berbagai potensi risiko juga telah dimitigasi, termasuk kesiapan tim di sejumlah titik dengan tingkat kerawanan tinggi,” ujarnya di Jakarta, Kamis.
Di balik pernyataan itu, ada upaya panjang yang terus disusun. Cuaca ekstrem, potensi longsor, hingga kerusakan infrastruktur akibat bencana menjadi bagian dari kalkulasi perjalanan mudik tahun ini. Pemerintah, kata AHY, menyiagakan tim di berbagai lokasi strategis agar setiap gangguan dapat ditangani dengan cepat.
Di sektor perkeretaapian, geliat mudik terlihat semakin menguat. PT Kereta Api Indonesia mencatat peningkatan jumlah perjalanan kereta sekitar 2,1 persen dibandingkan tahun lalu, dengan total hampir 50 ribu perjalanan untuk layanan jarak jauh dan lokal. Sekitar lima juta penumpang diperkirakan akan menggunakan moda ini selama periode angkutan Lebaran.
Di Stasiun Pasar Senen, misalnya, jumlah penumpang harian diperkirakan melonjak hingga 24 ribu orang, hampir dua kali lipat dari hari biasa. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan kerinduan yang bergerak, orang-orang yang pulang membawa cerita dan harapan.
Pemerintah pun berupaya memperluas akses perjalanan. Diskon tiket kereta hingga 30 persen disiapkan untuk menjangkau sekitar 1,2 juta penumpang. Di saat yang sama, program mudik gratis dan motor gratis (motis) turut dihadirkan, memberi ruang bagi masyarakat yang ingin pulang tanpa beban biaya yang berat.
Namun, bagi AHY, perjalanan mudik tidak hanya tentang berpindah tempat. Ia adalah perjalanan batin.
“Perjalanan mudik bukan hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati menuju kampung halaman,” katanya.
Sementara itu, di jalur darat Sumatera Utara, suasana mudik memiliki cerita lain. Jalanan yang membelah perbukitan dan lembah masih menyimpan jejak bencana yang belum sepenuhnya pulih.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, mengingatkan para pemudik untuk tidak sekadar mengejar waktu, tetapi juga menjaga keselamatan. Di wilayahnya, sejumlah ruas jalan masih dalam proses perbaikan akibat banjir bandang dan longsor yang terjadi sebelumnya.
“Di posko yang disediakan ini sudah cukup lengkap fasilitasnya, ada tempat istirahat dan juga cek kesehatan gratis,” ujarnya saat meninjau pos pengamanan di Desa Parsariran.
sumber : Antara

3 hours ago
1














































